Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Wednesday, 27 February 2013

Cerpen ^^


Jumpa Lagi !

          “Lala, udah setengah tujuh. Nanti telat, Sayang!” terdengar suara bunda yang sedang menyiram bunga di halaman depan. “iya Bun, sebentar!” jawab Lala dari dalam rumah yang tergesa-gesa mencari sesuatu. Bunda pun segera masuk ke dalam rumah, memastikan putrinya sudah siap berangkat sekolah. “Loh..kok belum siap, kamu cari apa La?” tanya bunda yang melihat Lala keluar masuk kamarnya. “Bunda liat buku aku nggak? Kemarin aku taruh meja ini”, kata Lala yang masih sibuk memilah tumpukan di meja dekat kamarnya. “Kamu itu, makanya kalo naroh barang jangan sembarangan. Kebiasaan!” omel bunda yang juga membantu Lala mencari bukunya. Lala jadi manyun kena omel bunda. “ya udah..sekarang kamu berangkat aja, ntar pulang sekolah dicari lagi”, nasihat bunda. “hmm...iyadeh, mudah-mudahan nanti nggak dimarahin Bu Dera” kata Lala kemudian.
          Lala segera menyalakan motornya dan berangkat ke sekolah. “Lala berangkat Bun, Assalamu’alaikum!!!!” teriak Lala kenceng. “Wa’alaikumsalam... jangan ngebut, hati-hati!” jawab Bunda di depan pintu. Bunda kembali masuk rumah dan melanjutkan aktifitas seperti biasanya.
          Di jalan, Lala naik motornya ngebut bener. Jarak sekolah dengan rumahnya kurang lebih 8 km. Dia Takut telat, walaupun hobinya berangkat kesiangan kayak gini. Mau ditaroh mana muka gue kalo telat -_- katanya suatu hari. “Aduh...truk depan jalannya lambat bener, udah jam berapa ini?! Bisa telat gue.” Lala ngomel-ngomel sendiri. “gue salip aja deh, bismillah...” pikirnya, dan wushhhh..... Lala pun menyalip 2 truk gandeng sekaligus. Saatnya ngebut lagi, sekolah... I’m coming, girangnya dalam hati.
          Di perempatan, Lala kena lampu merah. Dia benar-benar tidak bisa tenang. “lampu merah, cepet ganti ijo dong. Keburu telat ini, please....” cerocosnya sendiri. Akhirnya lampu ijo nyala juga. Lala pun langsung melesat diantara bayak kendaraan. Wushhhhh.........!!!!!!!!!!!!! Lala disalip seseorang. “Siapa tuh? Kayaknya kenal” pikirnya. Lala pun berniat menyusul motor yang menyalipnya. Tapi sayang, motor itu benar-benar ngebut. Lala kehilangan jejaknya.
          Tiba digerbang sekolah, Lala turun dan menuntun motornya sampai ke parkiran. “Alhamdulillah... nggak telat” leganya dalam hati. Langkahnya juga dipercepat karena lima menit lagi bel sekolah berbunyi.
          Tetttt....tetttt!!!!! Bel sekolah pun berbunyi, seluruh murid SMA Idola pun berhamburan memasuki ruang kelas masing-masing. Lala berlari dari parkiran menuju kelasnya. Namun tiba-tiba, Brukkk!! Dia bertabrakan dengan seorang cowok. “Maaf” kata Lala dan cowok itu bersamaan. “salah gue kok, tadi jalan gak liat depan. maaf ya” lanjut Lala. “nggak papa kok, gue juga salah” kata cowok itu kemudian. “oh ya, ruang kepala sekolah dimana?” sambung cowok itu. “dari sini jalan lurus, trus ada UKS lo belok kiri. Ruang kepsek di sebelah TU.” jelas Lala. “Oke, thanks ya” kata cowok itu. “sama-sama” jawab Lala. “Eh...nama lo siapa?” tanya cowok itu sebelum meneruskan langkahnya ke ruang kepsek. Tepat saat cowok itu membalikkan badan, Lala udda ngibrit ke kelas. “loh... mana tu cewek? kok ngilang ya.. hii, horor!” katanya dalam hati dan bergegas ke ruang kepsek.
          Tiba dikelas, Lala langsung duduk di bangkunya. “Dari mane aje neng, jam segini baru nongol” sindir Gita teman sebangkunya yang lagi asik baca komik. “hehe” Lala hanya nyengir kuda. “La, pinjem buku pe-er lo dong” pinta Rio tiba-tiba. “buku pe-er gue lagi ilang Yo” kata Lala. “ah elo  nggak asik. Ayolah La!” Rio memohon. “beneran, tadi pagi gue cari gk ada” kata Lala. “yaudah deh... gue pinjem lo dong Git” kata Rio ke Gita. “pinjem apa?” tanya Gita. Dia lagi fokus ke komiknya. “pinjem buku pe-er matematika lo” jawab Rio. “Oh iya, gue lupa belom ngerjain” kata Gita menepuk jidatnya. “haha... emang lo pernah inget kalo ada pe-er?!” ledek Rio. “hu....ngledek aja lo!” Gita memanyunkan bibirnya. “Jelek! hahaha” kata Lala dan Rio kompak. “huhhhh... dasar kalian, bisanya cuma ngledekin gue aja” Gita pura-pura ngambek. “bercanda Git” kata Lala menepuk-nepuk punggung Gita.
          Lala, Gita, dan Rio bersahabat sejak awal masuk SMA idola. Mereka akrab karena sering dihukum bareng oleh kakak-kakak panitia MOS dulu. Kebetulan mereka masuk di kelas yang sama, jadi tambah erat aja persahabatan mereka.
          “teman-teman, mohon perhatiannya sebentar” tiba-tiba Andi si  ketua kelas memberi pengumuman. “hari ini Bu Dera nggak masuk...” katanya. “horeee!!!!yeeee...Asikkk!!” sontak seluruh penghuni kelas gaduh. “sebentar, gue belom selesae ngomong!!!” teriak Andi jengkel. Kelas pun berangsur-angsur tenang. “kita tetep dikasih tugas dan harus dikumpulin hari ini juga.” kata Andi. “yahhh...nggak asik nih” penghuni kelas mulai kecewa. “Lala, lo tulis ini di papan ya!” perintah Andi dan memberikan kertas tugas dari Bu Dera. Dengan malas Lala menulis tugas Bu Dera di papan tulis. “banyak amat ya nomornya, heuh!” desahnya.
          Tok! Tok! Tok!
Terdengar pintu kelas diketuk. Ternyata Pak Budi, Waka Kesiswaan sekolah. “ada apa ya..” pikir Lala. Lala pun mengehentikan aktifitasnya menulis soal di papan. “selamat pagi anak-anak...” sapa Pak Budi. “Pagi Pak!” jawab penghuni kelas kompak. “hari ini kalian mendapat teman baru, ayo silakan masuk” kata Pak Budi menyuruh seseorang masuk. “perkenalkan diri kamu” lanjut beliau. “Nama gue Alvin Jonathan, gue pindahan dari Bandung. Salam kenal semua” kata anak baru itu. “Alvin Jonathan? Sepertinya gue pernah denger nama itu” batin Lala. “baiklah, semoga kamu betah sekolah di sini. Bapak tinggal dulu” kata Pak Budi. Anak baru itu mengangguk sopan.
Lala pun melanjutkan tugas menulis soal dari Bu Dera. “kurang beberapa nomor lagi, semangat Lala” kata Lala pada dirinya sendiri. Setelah selesai melaksanakan tugasnya, Lala kembali duduk di bangkunya dan menulis ulang di buku tugasnya. Anak yang bernama Alvin Jonathan itu duduk di bangku depan Lala, tepatnya sebangku dengan Rio.
“buset dah, Bu Dera ngasih soalnya sulit amat. Gimana ngerjainnya?!” Rio ngedumel sendiri. “Wahh... lo anak baru pinter amat yak” kata Rio yang melihat Alvin hampir selesai mengerjakan soal dari Bu Dera. “Ajarin gue dong Vin” kata Rio. “haha... boleh” sambut Alvin. Walaupun baru kenal, Alvin dan Rio sudah terlihat akrab. “Alvin, gue juga dong” kata Lala ikutan. “gue juga ajarin” tambah Gita. “yee...ikut-ikutan aja kalian” kata Rio. “Oh ya, mereka ini sahabat gue Vin, yang ini namanya Gita, terus satunya namanya Lala” lanjut Rio. “salam kenal ya..” kata Alvin bersalaman dengan Gita dan Lala. Tak lama kemudian, Alvin terlihat akrab dengan Lala dan Gita.
Saat istirahat, Rio mengajak Alvin, Lala, Gita ke kantin dan menraktir mereka. “haha...ternyata lo gokil juga Vin” kata Gita di sela-sela makannya. “udah banyak yang ngomong gitu. hehe” respon Alvin. “huuu....” sorak Rio, Lala, dan Gita. Barusan, Alvin ngomongin kucingnya yang baru ngelahirin 3 anak. Tuh kan, mereka sudah akrab. Kucing aja udah dijadiin topik pembicaraan. Hihihi
“Oh ya Vin, dulu lo pernah sekolah di TK Bakti Mulia gak?” tanya Lala tiba-tiba. “iya,  kayaknya dulu gue pernah sekolah disitu” jawab Alvin mengingat-ingat. “hahaha... Jojo!” seru Lala. “lo inget gue?” lanjutnya. “ohh... elo Lalapo kan?!” kata Alvin tertawa. Lala mengangguk-angguk. “haha.. gak nyangka ya, sekarang kita satu sekolah” sambung Alvin. “kalian ngomongin apa sih?” tanya Rio kepo. “jadi gini, Alvin itu temen gue waktu TK dulu. Gue manggilnya Jojo bukan Alvin. Ya kan Jo!” kata Lala menjelaskan. “iya... dan gue manggil dia, Lalapo” kata Alvin. “ckck...temu kangen nih ceritanya” Gita ikutan. “haha... gitudeh! Tapi gue gak nyangka, Jojo yang dulu kuper sekarang berubah jadi Alvin yang.. ya, lumayan keren lah” puji Lala. “dulu gue gak kuper, Cuma pendiem aja. Wek :P” elak Alvin. “tapi gue juga kaget. Seingat gue Lalapo itu gendut kayak teletubbies gitu, eee...sekarang kayak orang kurang gizi gini” lanjutnya. “hahahahahaha.....” tawa Rio dan Gita meledak. “Lo pernah gendut juga La?” tanya Gita di sela-sela tawanya. “ye...itu dulu! Sekarang gue udah slim” jawab Lala PD kuadrat. “kurang gizi aja bilangnya slim. Dasar Lalapo” ledek Rio. “gara-gara elo nih Jo, buka rahasia di depan mereka. huuuu” Lala menoyor Alvin. Alvin hanya ketawa. “haha... Lalapo, berpelukan” tambah Gita. “hhahahaha.....” meledaklah tawa Alvin, Rio, dan Gita. “Dasarrr kaliann....!!!!” kata Lala yang ikutan ketawa dan berusaha untuk menoyor Gita dan Rio.

Tuesday, 5 February 2013

Contoh Cerpen ^_^


JENGKELIN!!!
            Pukul 6 pagi, aku sudah siap untuk berangkat sekolah. Aku menunggu Mas Elang di teras depan sambil membaca pelajaran yang menjadi materi ulangan hari ini. Tak berapa lama, Mas Elang sudah nangkring di atas motornya, siap mengantarku ke tempat angkot. Sudah 3 bulan ini aku berangkat sekolah naik angkot. Saat SMP, aku selalu diantar jemput Mas Elang karena kebetulan sekolahku searah dengan kampusnya. Selain itu, aku juga belum bisa naik motor dan tidak ada angkutan umum di daerahku yang melewati sekolahku.
Sekarang aku bersekolah di SMA Idola. Aku baru masuk tahun ini, jadi masih kelas X. Jarak sekolah dari rumahku kurang lebih 15 km. Lebih jauh dari SMP ku dulu dan berlawanan arah dengan kampus Mas Elang. Namun, sekolahku yang sekarang berada di pusat kota. Tak heran jika banyak angkot, bus, atau angkutan umun lainnya yang melewati sekolahku. Sekalian berangkat ke kampus, Mas Elang mengatarku ke tempat angkot yang jalannya searah dengan kampusnya.
Tiba di tempat angkot, aku heran melihat anak – anak yang biasa naik angkot denganku masih duduk – duduk di bawah pohon. Biasanya mereka duduk di dalam angkot sambil menunggu penumpang lain. Ternyata, angkot yang biasa kami naiki belum datang. Ada salah satu anak SMK yang mencoba menghubungi sopir angkot. Namanya Dhea. Dia juga kelas X, sama sepertiku.
Sepuluh menit kemudian, angkot yang kami tunggu akhirnya datang. Tanpa menunggu komando, para penumpang pun bergegas naik. Hari ini pelajar yang naik angkot tak begitu banyak. Mungkin mereka akan naik angkot berikutnya. Atau malah mereka yang berangkat lebih pagi dariku.
Tetapi, aku merasa aneh dengan sopir angkot hari ini karena dia tidak langsung berangkat seperti biasanya. Dia masih menunggu penumpang lain. Padahal, sekarang sudah jam 6 lewat. Aku baru sadar kalau angkot ini adalah angkot yang berangkat jam 6 lewat 15 menit. Sedangkan angkot yang biasa kunaiki berangkatnya jam 6. Sebenarnya angkot yang biasa kunaiki sudah berangkat ke tempat berkumpulnya angkot, namun di tengah perjalanan mesinnya mendadak bermasalah. Aku jadi khawatir kalau naik angkot ini akan telat sampai sekolah. Aku membutuhkan waktu paling lama 60 menit untuk sampai di sekolah. Kalau jam 6 lewat 15 baru berangkat, kemungkinan jam 7 kurang 15 menit aku baru sampai di sekolah. Tepat bel tanda masuk berbunyi. “semoga tidak telat ya Allah....”, batinku.
Aku semakin khawatir saat angkot yang kunaiki berjalan super pelan. Ingin rasanya aku menggantikan si sopir itu untuk mengendarai angkotnya. Dhea dan Shilla, siswi SMK 21 sudah turun. Tinggallah aku dan Acha sebagai pelajar yang naik angkot. Sekolahku dan sekolah Acha jaraknya cukup dekat. Bisa dibilang sekolah kita tetanggaan. SMK Harapan, sekolah Acha berada di samping sekolahku yang hanya dibatasi oleh kantor pajak.
Aku mencoba tenang dengan mengalihkan perhatianku ke jalanan yang ramai oleh pengguna jalan hingga pandanganku menangkap jam salah seorang penumpang. Terlihat jam itu menunjukkan pukul 07.30. Akupun kembali was – was. Ditengah – tengah kekhawatiranku, angkot yang aku naiki berhenti dengan tiba - tiba. Padahal tidak ada penumpang yang turun ataupun naik. Firasatku mengatakan akan terjadi sesuatu yang buruk. Ternyata angkot ini mogok. Si Sopir juga terlihat khawatir. Dia mencoba menstater berulang kali. Namun, mesinnya tetap tak mau hidup. “duh.. sampai sekolah jam berapa nih kita?!”, kata Acha yang tak kalah khawatir. Aku hanya mengangkat bahu dan geleng – geleng kepala.
Kekhawatiranku mencapai puncak. Sekarang sudah jam 7 kurang 20 menit. Acha beruntung, ada temannya yang kebetulan lewat dan menawarinya tumpangan. Sedangkan aku merasa jengkel luar biasa. Sudah tidak ada lagi siswa sekolahku yang lewat jalan ini. Aku pun pasrah jika harus telat. Lama aku dan penumpang lainnya menunggu sopir itu memperbaiki angkotnya. Aku terduduk lemas di atas sebuah batu. Coba kalau penumpang saat itu ada yang bawa HP, akan kupinjam untuk menghubungi Mas Elang atau Ayah. Aku jadi kesal mengingat peraturan sekolahku yang tidak membolehkan siswanya membawa alat itu. Penumpang lain tampak kasihan melihatku. Sungguh menyedihkan.
Beberapa menit pun berlalu. Angkot itu benar – benar mogok, tidak mau jalan. Si Sopir angkot pun minta maaf pada kami semua. Dia juga menyuruh kami tidak usah membayar. Aku sudah terlanjur sebal dengan apa yang terjadi hari ini. Tak kutanggapi permintaan maaf dari sopir itu. Kermudian ada angkot lain yang lewat, langsung saja aku dan penumpang lainnya bergegas naik. Aku hampir menangis di dalam angkot kalau tak ingat banyak orang di dalamnya.
Jam setengah delapan aku tiba di sekolah. Di depan gerbang, terlihat guru piket berjajar sedang menghukum para siswa yang telat. “Banyak juga yang telat”, pikirku. Aku pun berjalan cepat ke gerbang. Di sana ada Bu Winda yang memperhatikanku kemudian bertanya kenapa aku telat. Awalnya aku hanya minta maaf. Aku tak sanggup untuk menceritakan kalau angkot yang aku tumpangi mogok. Aku rasa belum tentu Bu Winda akan percaya dengan alasanku. Namun akhirnya aku menceritakannya juga. Kemudian aku bergabung dengan teman – teman lain yang di hukum mencabuti rumput.
Hari ini aku benar – benar jengkel dan malu. Sepanjang sejarah sekolahku dari SD sampai SMA, baru kali ini aku telat dan dihukum. “bisa telat juga lo Vi?”, tanya Rio menyindirku. “Lagi pengen ngrasain gimana rasanya telat!”, jawabku ketus. “galak amat”, katanya lagi. “Diem lo!”, balasku. Segera Rio mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya, “piss” tanda damai sambil cengar – cengir. Cepat – cepat aku menyelesaikan hukuman ini karena jam ke-2 ada ulangan Biologi.
Setelah mengisi buku pelanggaran, aku diijinkan untuk ke kelas. Aku berjalan ogah – ogahan ke kelas. Rasanya malas melakukan apapun hari ini, termasuk berjalan. “kenapa juga kelasku di lantai dua”, gerutuku.
Sampai di kelas, aku disambut tepuk tangan dari teman – teman. Huh! Menyebalkan! Untung saja guru jam pertama sudah keluar dan guru jam kedua belum masuk. Aku Bisa malu kalau guru – guru tau. Akupun berjalan gontai ke bangkuku. Tak kupedulikan teman – teman yang masih menyorakiku dan melihatku dengan tatapan heran. Kubenamkan wajahku pada kedua telapak tangan. Benar – benar pengen teriak sekencang – kencangnya! Aaaaaaaa.......!!!!!!!!
Tak lama kemudian, Cakka sang ketua kelas mengumumkan bahwa Pak Dave tidak masuk hari ini, beliau sedang tidak enak badan. Sontak penghuni kelasku bergembira ria karena ulangan biologinya ditunda. Aku pun cukup lega. Paling tidak aku bisa lebih tenang karena “mood” ku sedang jelek hari ini. Lantas aku pergi ke toilet. Kubasuh wajahku berkali – kali. Hal yang biasa kulakukan jika sedang kesal. Setelah puas, aku kembali ke kelas.
Suasana kelas cukup ramai. Walaupun sudah diberi tugas, tetap saja ada yang tak segera mengerjakan. Jam kosong, bak surga bagi pelajar. “Sivia, tumben kamu telat. Ada apa?”, tanya Agni sahabatku. Aku Cuma geleng – geleng. Tak ingin membahas masalah telatku. Paling tidak untuk hari ini saja. “iya deh.. gak usah dijawab sekarang” kata Agni kemudian. Kelihatannya dia kecewa karena tak mendapat jawaban dariku. “hmm...aku mau jawab tapi kamu jangan ketawa”, kataku. Agni mengangguk dan senyumnya mengembang. “huh! Semua ini GARA – GARA ANGKOT MOGOK!”, ucapku setengah berteriak. Terlihat Agni menahan tawanya dan teman – teman yang lain menatapku dengan heran. Segera kubenamkan wajahku dalam – dalam di atas meja.